Koprolalia dan kekhidmatan Berbahasa Tinjauan Psikolinguistik Terhadap Penyebab, Mekanisme, dan Efek Penyakit Latah Kotor dalam Tuturan


oleh

Sri Maryani*

A. Latar Belakang

Seringkali disebutkan beberapa penyebab munculnya penyakit latah yaitu di antara karena gangguan fungsi syaraf, psikologis dan sosial. Para pengkaji atau peneliti kasus tersebut biasanya menguatkan titik fokus pada tiga faktor yang disebutkan di atas. Sebenarnya ada satu lagi yang seringkali terlewatkan untuk dikaji lebih lanjut yaitu tentang linguistik entah itu kedudukannya sebagai faktor penyebab (kalau dapat disebutkan sebagai faktor penyebab) atau kedudukannya sebagai efek atau output dari peristiwa latah itu tadi.

Menurut KBBI (2005:643) latah adalah menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; berlaku seperti orang gila (misal karena kematian orang yang dikasihi);  meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain; mulut mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh (karena marah, dsb).

Sejalan dengan definisi yang diungkapkan KBBI, ada pula yang mengelompokkan jenis-jenis latah tersebut ke dalam dua kelompok yaitu latah ucapan (latah verbal) dan latah tindakan. Latah verbal terdiri dari dua jenis latah yaitu Ekolalia (mengulangi perkataan orang lain) dan koprolalia (mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor). Latah tindakan terdiri dari dua jenis latah yaitu latah ekopraksia (meniru gerakan orang lain) dan automatic obodience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut).

Dari keempat jenis latah tersebut koprolalia menjadi jenis latah yang mungkin saja paling dapat “menjatuhkan wibawa” penderitanya. Seorang penderita latah jenis ini secara spontan dapat mengeluarkan kata-kata jorok seperti menyebut nama alat-alat kelamin apabila dikagetkan. Hal tersebut dapat dilihat pada kasus yang objek yang dikaji dalam makalah ini. Seringkali apabila mengalami kekagetan, objek mengucapkan nama alat kelamin laki-laki secara spontan.

B. Rumusan Masalah

Ada beberapa rumusan makalah yang penulis rumuskan dalam makalah ini yaitu:

1. apakah definisi kelainan berbahasa itu?

2. apakah definisi latah?

3. apakah latah termasuk kelainan berbahasa?

4. jelaskan tentang jenis-jenis latah?

5. apakah penyebab latah koprolalia?

6. bagaimana mekanisme latah koprolalia terjadi?

7. apakah efek latah koprolalia bagi penderitanya?

8. apakah penyakit latah koprolalia dapat disembuhkan?

C. Tujuan Penulisan

Di dalam penulisan ini ada beberapa tujuan yang hendak dicapai yaitu:

1. agar mengetahui definisi kelainan berbahasa

2. mengetahui definisi latah

3. mengetahui bahwa latah termasuk kelainan berbahasa atau bukan

4. mengetahui jenis-jenis latah

5. mengetahui penyebab latah koprolalia

6. mengetahui mekanisme terjadinya latah koprolalia

7. engetahui efek latah koprolalia bagi penderitanya

8. mengetahui cara penyembuhan latah koprolalia

D. Profil Objek:

Nama                                       : Ellys Herawati

Tempat dan Tanggal Lahir      : Sumedang, 8 November 1963

Pekerjaan                                 : Ibu Rumah Tangga

Alamat                                    : Jalan Pamagersari No 16A RT 01 RW 03 Desa Tanjungsari Kecamatan Tanjungsari Kabupaten sumedang 45362.

Dari hasil wawancara bersama objek, diketahui beberapa data yaitu bahwa objek mengalami latah pada saat usia 30 tahun. Saat dikagetkan, penderita sering melontarkan kata-kata secara spontan dalam bentuk kata-kata jorok yaitu sering menyebut-nyebut “gonad” pria. Penderita menyatakan bahwa mulai menderita latah dimulai dengan mimpi jorok. Penderita sering dikagetkan meskipun di tempat-tempat umum seperti di pasar. Namun, tetap saja ia tak dapat mengontrol kata-katanya sehingga kata-kata yang keluar tetap jorok.

D. Deskripsi dan analisis data

Berbicara tentang latah kita berbicara tentang “kespontanan” yang tidak dapat dijelaskan oleh penderita. Awalnya ia merasa kaget lalu ia mengikuti peniruan entah berbentuk gerakan atau ucapan. Dalam tulisan ini yang akan disoroti lebih dalam yaitu tentang kespontanan dalam hal verbal atau latah verbal. Lebih spesifik lagi yaitu tentang latah menggunakan bahasa-bahasa kotor (koprolalia).

Menurut KBBI (2005:643) latah adalah menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; berlaku seperti orang gila (misal karena kematian orang yang dikasihi);  meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain; mulut mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh (karena marah, dsb).

Seperti yang telah dijelaskan di bagaian latar belakang, latah memiliki empat jenis yaitu Ekolalia (mengulangi perkataan orang lain), koprolalia (mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor). ekoproksia (meniru gerakan orang lain) dan automatic obodience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut).

Koprolalia (coprolalia) berasal dari bahasa Yunani “coprol” yang memiliki arti feces/kotoran. Latah jenis ini memang seringkali mengulang kata-kata tabu/jorok yang telah terpatri dalam pikiran sang penderita.

Ada satu pertanyaan yang dari dahulu menggelitik pikiran penulis yaitu tentang apakah bahasa lahir karena ada pikiran manusia terlebih dahulu ataukah pikiran terlahir karena adanya bahasa dahulu yang menstimulus? Apabila diuraikan memang pertanyaannya mirip dengan pertanyaan esensi yaitu “Telur dulu ataukah ayam dulu?”. Namun, studi-studi memang pada akhirnya menjawab pertanyaan tersebut meskipun ahli yang satu berbeda dengan pendapat ahli yang lainnya. Ada yang menyebut bahwa bahasa lahir setelah adanya “proses memikirkan” terlebih dahulu. Ada sebagian ahli lain yang menjelaskan bahwa “pemikiran” justru lahir karena adanya bahasa terlebih dahulu. Namun, Whorf dan Safir yang justru menggabungkan (membenarkan) dua hipotesis tersebut. Pikiran dan bahasa itu saling memengaruhi. Di dalam mekanisme normal, otak terstimulus oleh “kehendak diri” untuk membahasakan/mengkomunikasikan apa yang ada di dalam pikiran atau apa yang diinginkan diri. Namun, di sisi lain ada peristiwa-peristiwa spontan ,yang menuntut keadaan sebaliknya tanpa melalui filterisasi di otak terlebih dahulu. Salah satu kasus yang mungkin sesuai yaitu kasus latah. Latah memang merupakan tindakan spontan diluar kendali sang selakunya.

Apabila dikaitkan dengan kompetensi berbahasa, muncul sebuah pertanyaaan yaitu apakah latah termasuk kelainan dalam berbahasa? Di dalam buku Dasar-dasar psikolinguistik didapatkan sebuah definisi bahwa kelainan bicara dan/atau bahasa adalah adanya masalah dalam komunikasi dan bagian-bagian yang berhubungan dengannya seperti fungsi organ bicara (2009:111).

Tentang kelainan berbicara dan/atau berbahasa dikenal dua istilah yaitu language disorder ialah gangguan bersifat permanen ada kerusakan pada LAD (bagian otak yang mengatur bahasa) juga organ wicara dan language disfunction ialah gangguan fungsi pada salah satu alat berbahasa. laguage disfunction ini masih memungkinkan untuk diperbaiki. Latah termasuk kasus language disfunction yaitu karena adanya gangguan pada sistem “pengendalian berbahasa”. Para penderita tidak dapat mengendalikan kata-kata yang mereka ucapkan ketika kaget. Apabila kelainan organik biasanya dipicu karena adanya faktor fisiologis yang bermasalah seperti organ ucap yang rusak, maka kelainan fungsional (language disfunction) biasanya dipicu oleh faktor-faktor yang sifatnya lebih berkaitan dengan psikis.

Ada tiga faktor penyebab latah yang sering dijelaskan oleh para ahli. Faktor-faktor ini sifatnya lebih berkaitan dengan psikis penderita.

  1. faktor pemberontakan. Mungkin di masa lalu penderita, ada dorongan yang tidak terkendali untuk melakukan sesuatu. Masa lalu yang selalu dikungkung dan dilarang juga bisa dimasukkan kategori ini. Hal ini tergambarkan dalam “tindakan latah” pada penderita yang cenderung “memberontak” realitas. Para penderita tidak menyadari lagi kata-kata yang diuvcapkan saat latah itu layak diucapkan atau tidak.
  2. faktor kecemasan dipicu oleh adanya tokoh otoriter di balik layar. Dominasi tokoh yang dekat secara psikologi, tidak harus dalam lingkungan keluarga, bisa menjadi penyebab latah. Efeknya ialah penderita latah sering terpancing sikap reaktifnya untuk merespon secara spontan apa saja yang mengagetkan atau mencemaskannya secara tiba-tiba.
  3. faktor pengkondisian, dalam bahasa sederhana disebut ikut-ikutan (trend-follower). Sebagai aktualisasi untuk mencari perhatian dari lingkungannya. Selain tentang aktualisasi untuk mencari perhatian tersebut, pengkondisian ini bisa merupakan tindak ‘mengkondisikan’ diri atau membiasakan diri dalam keadaan tersebut dalam hal ini latah. Inne Pramundita SPSi, psikolog Lascha Citta Pratama 3 menyebutkan bahwa latah bukanlah penyakit melainkan kebiasaan.

Faktor yang ke tiga ini pula yang dapat menjelaskan mengapa latah dapat menular yaitu karena adanya pengondisian. Latah bukanlah penyakit mental, tapi lebih merupakan kebiasaan yang tertanam di pikiran bawah sadar. Dan, tentang kaitannya di sini dengan linguistik atau bahasa ialah bahwa bahasa merupakan salah satu efek atau “out put” dari peristiwa latah itu tadi. Seorang yang menderita latah berujar tanpa kendali pikiran sadarnya. Pernyataan ini pula yang akan menjawab tentang mekanisme terjadinya latah. Otak manusia memiliki dua kawasan unik yang amat berbeda namun sangat saling mempengaruhi. Salah satu bagian yang umumnya dikenal ialah bagian otak sadar (alam sadar) yang fungsinya untuk mengorganisasikan dan memfilterisasi segala tindakan manusia. Namun, ada satu kawasan otak lainnya yang sangat berperan dalam kehidupan manusia yaitu alam bawah sadar kita (subconcious). Pada kenyataannya, manusia 88% diatur oleh alam bawah sadarnya dan peran alam sadarnya hanya 12%. Orang yang latah adalah orang yang tak dapat mengendalikan alam bawah sadarnya dan malah cenderung selalu dikendalikan oleh otak bawah sadarnya tersebut. Penderita tak dapat mengendalikan sikap cemasnya, sikap reaktifnya, dan cenderung serba spontan dalam merespon sesuatu dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Di dalam keilmuan yang biasanya berurusan dengan alam bawah sadar ini ada yang dikenal dengan sebutan sugesti atau penguatan mindset. Penderita latah pada awalnya sudah mensetting otaknya untuk merespon setiap kekagetan dengan tingkah tertentu.

Kaget ——> Respon spontan

Mengapa latah dengan menggunakan bahasa jorok (koprolalia) dapat terjadi?

Salah satu kasus ialah yang dialami oleh objek dalam dalam makalah ini. Penderita mengalami latah koprolalia atau latah kotor. Ia mengalami latah sejak usia 30 tahun. Pada awalnya, pengkaji mencoba mengaitkan antara latah dan sifat cerewet objek. namun, diketahui fakta pula ada juga ternyata penderita latah yang pada dasarnya memang tidak cerewet. Akhirnya diketahui bahwa memang latah terjadi karena sikap reaktif berlebihan yang dimiliki oleh penderita. Tentang bahasa latahnya yang kotor, pengkaji berasumsi bahwa hal ini berkaitan dengan lingkungan. Objek berada di lingkungan tinggal yang didominasi oleh laki-laki. Semua anaknya ialah laki-laki. Mungkin hal tersebut dapat dikaitkan mengapa saat latah yang ia ujarkan yaitu tentang nama alat kelamin laki-laki. Lingkungan pula menstimulus dalam hal ini memberikan penguatan ke dalam otak bawah sadarnya (mensugesti) untuk senantiasa mengucapkan kata-kata kotor. dalam ilmu hipnosis kita mengenal adanya anchor atau penanda untuk mensugesti. Misalnya: “Kaget” lalu ditanam di alam bawah sadarnya yaitu pada saat mendengar kata kaget ia harus merespon dengan perkataan jorok. Ini memang diluar kendali otak sadarnya.

Mekanismenya yaitu:

Semakin lama alam bawah sadar tersugesti untuk itu maka semakin tebal penguatan terhadapnya. Di sinilah peran bahasa sesungguhnya, bahasa merupakan penyebab “penyakit” sesungguhnya. Karena bahasalah yang mendorong alam bawah sadar untuk “mensugesti salah”. Seperti halnya ia dalam menciptakan suatu penyakit, sebetulnya bahasa juga bisa menjadi obatnya. Jadi, dapat dikatakan peran bahasa ialah sebagai sugesti penimbul penyakit dan obatnya sekaligus, tinggal bagaimana yang empunya mengendalikannya.

“Manusia merupakan homo fabulans, homo ludens, dan homo symbolicum (makhluk bercerita, makhluk bermain, dan makhluk pencipta lambang) yang mengisyaratkan bahkan mensyaratkan adanya tutur dalam kehidupan manusia.” (Djoko Saryono, 2006:13) sejalan dengan pendapat Ernest Cassier yang menyebutkan bahwa manusia sebagai animal symbolicum yang menggunakan simbol. Bahasa sebagai simbol yang memperkukuh/mengandalikan otak untuk melakukan sesuatu. Bahasa dapat mensugesti seseorang untuk melakukan tindakan fisik juga dapat melakukan tindakan berbahasa itu sendiri. Namun yang pasti, apabila dikaitkan dengan penyakit latah, tindakan berbahasa yang meupakan output hanya merupakan “produk bawah sadar” yang mungkin saja secara leksikal dan semantik memiliki arti, namun pikiran manusia yang mengujarkannya secara spontan itu tidak memaknainya secara khusus karena kata-kata tersebut keluar begitu saja.

Latah ada yang menyebutnya sebagai sesuatu yang biasa saja bahkan ada yang menganggapnya sebagai suatu hiburan, namun ada pula yang menganggapnya sebagai suatu penyakit yang sangat mengganggu. Latah dalam bentuk perkataan bisa saja melunturkan kekhidmatan berbahasa, misalnya seorang penderita koprolala yang sedang berbicara serius di dalam forum formal, tiba-tiba ia dikagetkan, tahukah apa yang akan terjadi? Mungkin saja wibawanya tiba-tiba jatuh di hadapan khalayak yang pada awalnya menyeganinya. Padahal, sang pengujar pun tak merencanakan “kata-kata spontan’ yang diucapkannya.

Rekomendasi

Karena penyakit latah dianggap suatu penyakit yang cukup serius pada hal-hal tertentu. Maka, ada baiknya muncul beragam treatmen untuk membantu penyembuhannya di antaranya yaitu:

  1. Selalu berusaha tenang dan tidak reaktif meyikapi setiap persoalan.
  2. Terapi obat dan terapi perilaku (kognitif) adalah cara yang lazim dipakai mengatasi latah. “Yakni dengan diberikan stimulasi mengejutkan namun dibekali pengendalian respons terhadap stimulan tersebut.
  3. Penderita latah dilatih untuk tidak segera merespons dan diberikan waktu untuk berpikir setelah stimulasi kejutan itu.
  4. terapi obat biasanya diberikan obat menghambat stimulus. Berupa gabungan zat antidepresan dan penenang.
  5. Gunakan bahasa sebagai media penyembuh. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa bahasa bisa jadi cikal bakal yang mensugesti alam bawah sadar penderita latah untuk bertindak dan berucap latah. maka, bahasa pun dapat digunakan sebagai media penyembuh yaitu dengan cara menggunakannya sebagai “sugesti balik” untuk meghilangkan sugesti sebelumnya. Metode-metode seperti ini banyak digunakan dalam hipnoterapi.

Simpulan

latah adalah menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; berlaku seperti orang gila (misal karena kematian orang yang dikasihi);  meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain; mulut mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh (karena marah, dsb).

latah dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu latah ucapan (latah verbal) dan latah tindakan. Latah verbal terdiri dari dua jenis latah yaitu Ekolalia (mengulangi perkataan orang lain) dan koprolalia (mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor). Latah tindakan terdiri dari dua jenis latah yaitu latah ekopraksia (meniru gerakan orang lain) dan automatic obodience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut).

Faktor penyebab latah yaitu faktor pemberontakan, faktor kecemasan, dan faktor pengkondisian.

Bahasa memiliki peran dalam menciptakan “penyakit latah” yaitu karena bahasalah yang mensugesti alam bawah sadar untuk melakukan sesuatu. Misalnya bahasa menyuruh alam bawah sadar untuk merespon “kekagetan” dengan tindak reaktif berupa latah perbuatan dan latah verbal. Selain sebagai “pencipta penyakit” bahasa juga yang bisa menjadi obat penyembuhnya. metode ini biasa digunakan di kalangan para hipnoterapis.

Referensi

Anonim. http://www.berita8.com/news.php?cat=6&id=5515.%5B5 Desember 2009]

Anonim. http://forum.kafegaul.com/archive/index.php/t-125688.html%5B5 Desember 2009]

Anonim.http://wienarti.multiply.com/journal/item/96 [5 Desember 2009]

Anonim.http://hadialfarghani.blogspot.com/2009/06/latah-eh-latah.html

[5Desember 2009]

Anonim. http://forum.megaxus.com/index.php?topic=29425.0 [5 Desember 2009]

Anonim. http://harrie91.wordpress.com/2007/10/28/latah/ [10 Januari 2010]

Anonim. http://uulblog.blogspot.com/2009/06/eh-lataheh-latah.html

[10 Januari 2010]

Anonim. http://miranyala.multiply.com/journal/item/176/Latah_…_pffftt

[10 Januari 2010]

Anonim. http://www.hypnosis45.com/latah.htm [10 Januari 2010]

Anonim. http://hanonsari.com/?p=153 [10 Januari 2010]

Anonim.http://www.perempuan.com/new/index.php?aid=18535&cid=5

[10 Januari 2010]

Harras, Kholid A. dan Andika Duta Bachari. 2009. Dasar-dasar Psikolinguistik.

Bandung: UPI Press.

Kurniawan, Riky. http://riky.kurniawan.us/idea/latah/ [5 Desember 2009]

Sri Maryani, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) angkatan 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s