(Puisi) Melupa dan Dilupa


Bertanyalah pada laut

tentang melupakan dan dilupakan

Bahwa kapal tak pernah dilupakan untuk diantar pulang

Bahwa debur tak pernah melupakan gegas kembali ke tengah lautan

Bahwa angin tak pernah lupa menyinggahi tepian

Mungkin kita pernah lupa untuk saling sahut,

lantas,

membalikkan badan, lalu berjalan melupakan, meniadakan

Dan, kita melupakan

telah melukakan

 

Dan,

Bertanyalah pada laut,

Tentang melupa dan dilupa

Tentang menyiasati luka

Atau tentang membohongi luka?

Atau tentang mengabaikan luka?

Atau tentang apa?

Kita benar-benar telah melupa dan dilupa

Lalu, kita benar-benar berjalan melupakan dan meniadakan

Beri aku jenak untuk menghela,

aku ingin mengkidungkan Mata Jendela  pak Sapardi

” Pandanglah yang masih sempat ada…

Pandanglah aku: sebelum susut dari Suasana…

Sebelum pohon-pohon di luar tinggal suara…

Terpantul di dinding-dinding gua…

Pandang dengan cinta…

Meski segala pun sepi tandanya waktu kau bertanya-tanya,

Bertahan setia langit mengekalkan warna birunya…

Bumi menggenggam seberkas bunga, padamu semata”

Maka melupa dan dilupa

adalah peniadaan kata dan risau mata

menyusutkan aku dari suasana

melupaan aku dari rangkaian cerita

adalah pendudusan ingatan dari apa yang sempat tersematkan..

“Pandanglah yang masih sempat ada…

Pandanglah aku: sebelum susut dari suasana”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s