Puisi Nenden Lilis A.


Nenden Lilis A

 

Pulang

 

”kau yang pulang

adalah kau yang mengerti kerinduanku”

namun, bagaimanakah aku pulang

aku telah menggulung kenangan akan ibu

dan rumah masa lalu

seperti menggulung geribik bekas menjemur padi tadi siang

di sore hari, dalam kesenyapan dan kekelaman gudang belakang

sebab sungguh pedih menatap tubuh ringkih

dan mata yang pernah mengobarkan duka lara

pohon-pohon cengkih yang dibakar

(telah silam kuhirup harum cengkih

yang dipetik dan disiram keringat letih)

sebab nasib sekesat getah manggis muda

yang kutemukan pada tirus wajah bapa

(pipi hitamnya secekung daun kedondong

pandangnya kehilangan keriangan daun-daun kastuba)

setelah sirna kebun dan lumpur sawah

dan semangat kerja menetesi setiap bulir gabah

adikku menapi hari-hari pilu

seolah memisah beras dari pasir dan batu

(aku gamang

tak mengerti lagi arti pulang)

2007-2008

 

 

 

Catatan September

 

Aku ingin menemukan dirimu untukku

seperti engkau menemukan kenangan akan seorang perempuan

dan kasih sayang masa kecil

pada kursi jati antik dan meja marmer

kutangkup ujung cangkirmu dengan bibirku

agar kutemukan dan kurasakan jejak dan getar

bibirmu yang tertinggal di sana

ingatkah, ketika pagi menghunuskan pedang-pedang dingin

seseorang mendekap dadanya sendiri

: dada tipis dengan tulang bergaris-garis

dalam langkah terhuyung

ia seperti batang dan bulu-bulu bunga lavender

yang kau tanam tapi kau biarkan kering

(pada purnama, ranjang menggigil

dan malam seperti pengemis tak mendapat belas kasih)

siang dan senja tak kusongsong

tapi gorden enggan kututup

aku akan menunggumu hingga dapat kuraba rambutmu

meski dalam bayang

(sampai rambutku sendiri seperti rumput musim kemarau)

hingga dapat kusentuh lengan dan jari-jarimu

walau dalam kepergianmu

2007-2008

 

 

 

Epitaf

seperti rambut dalam masakan

seperti butiran gabah dalam nasi

seperti biji kapuk dalam bantal

selalu ada yang mengganjal

menyekat kerongkongan

banjir membenam kota

lumpur panas menenggelamkan desa-desa

itulah perih air mata

dan dukacita begitu kepala batu tak mau berlalu

sekepala batu penduduk tukang tawuran

dan harapan tinggal bagai kapal-kapal terbakar dan karam

kereta-kereta melenceng dari rel

atau jeritan-jeritan perempuan menggendong anak

dalam antrian beras murahan

lihatlah porak poranda kota oleh gempa

kampung yang disapu gelombang

bukankah itu hati kita

ah, bagaimanakah kita hapus epitaf

yang tergores dalam

di nisan hitam batin kita?

2007-2008

 


 

6 responses to “Puisi Nenden Lilis A.

  1. selamat malam bu Nenden Lilis A
    saya yuni mahasiswi unesa saya ingin sekali berbincang dengan ibu tentang kumpulan cerpen ibu yang berjudul ruang belakang dan kumpulan cerpen lainnya karya ibu
    saya harap ibu mau membalas E – mail saya
    terimakasih

  2. Mbak sri mulyani jurusan sastra ya alumni sastra?

  3. Aslmkm Sri mulyani jurusan sastra ya iktn asa ga mbak

  4. mbak fb mbak ko ga bisa di ad ya saya bisa ga mbk ad fb saya lam kenal ya

  5. FB saya http://www.facebook.com/gurukeren. Sy alumni Pend. Bahasa dan sastra Indonesia UPI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s