Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono


Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

 

Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

 

Kami Bertiga

dalam kamar ini kami bertiga:

aku, pisau dan kata –

kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya

tak peduli darahku atau darah kata

 

Mata Pisau

mata pisau itu tak berkejap menatapmu

kau yang baru saja mengasahnya

berfikir: ia tajam untuk mengiris apel

yang tersedia di atas meja

sehabis makan malam;

ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

 

Tentang Matahari

Matahari yang di atas kepalamu itu

adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu

waktu kau kecil, adalah bola lampu

yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat

yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,

adalah jam weker yang berdering

sedang kau bersetubuh, adalah gambar bulan

yang dituding anak kecil itu sambil berkata:

“Ini matahari! Ini matahari!”

Matahari itu? Ia memang di atas sana

supaya selamanya kau menghela

bayang-bayanganmu itu.

 

Sajak Kecil Tentang Cinta

mencintai angin harus menjadi siut

mencintai air harus menjadi ricik

mencintai gunung harus menjadi terjal

mencintai api harus menjadi jilat

mencintai cakrawala harus menebas jarak

mencintaiMu(mu) harus menjadi aku

 

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

 

Nokturno

Kubiarkan cahaya bintang memilikimu

Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya

Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu …

Entah kapan kau bisa kutangkap

 

Sajak Telur

dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung

semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin

memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai

merindukan telur

Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

 

Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

 

Kepompong Itu

kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan

kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga

dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,

1982.

 

Kisah

Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.

Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.

Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.

Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.

Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

 

Kukirimkan Padamu

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,

par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.

Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.

Namun ada.

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,

1982.

 

Sajak Subuh

Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, “Jangan bermimpi!” dan ia terkejut tak mengerti.

Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.

“Jangan bermimpi!” gertak mereka.

Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, “Jangan bermimpi! ”

Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan …..

 

Bunga, 1

(i)

Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.

Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;

siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu;

malam hari ia mendengar seru serigala.

Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!”

(ii)

Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.

Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ….

Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!”

 

Atas Kemerdekaan

kita berkata : jadilah

dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut

di atasnya : langit dan badai tak henti-henti

di tepinya cakrawala

terjerat juga akhirnya

kita, kemudian adalah sibuk

mengusut rahasia angka-angka

sebelum Hari yang ketujuh tiba

sebelum kita ciptakan pula Firdaus

dari segenap mimpi kita

sementara seekor ular melilit pohon itu :

inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Horison

 

Cermin, 1

cermin tak pernah berteriak;

ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,

meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;

barangkali ia hanya bisa bertanya:

mengapa kau seperti kehabisan suara?

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,

1982. Thn III, No. 8

Agustus 1968

 

Sajak Nopember

Siapa yang akan berbicara untuk kami

siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini

bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur

yang berjejal

bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental

tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami

dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan

siapa yang akan berbicara atas nama kami

yang berjejal dalam kubur

bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan

bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan

tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami

siapa yang bisa paham makna kehendak kami

kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan sederhana

ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus

tanpa dicatat namanya

kepada Ibu yang lebih besar dan agung :

ialah Tanah Air

kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah

yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus

untuk pergi lebih dahulu

apakah kau dengan para bunda itu mencari kubur kami

apakah kau dengar para bunda itu memanggil nama kami

mereka hanya berkaata : akan selalu kami lahirkan anak-anak yang baik

tanpa mengeluh serta putus asa

di Solo dua orang dalam satu kuburan

di Makasar sepuluh orang dalam satu kuburan

di Surabaya seribu orang dalam satu kuburan

dan kami tidak menuntut nisan yang lebih baik

tapi katakanlah kepada anak cucu kami;

di sini telah dikubur pamanmu, ayahmu, saudaramu

bertimbun dalam satu lobang

dan tiada yang tahu siapa nama mereka itu satu-persatu

tambur yang paling besar telah ditabuh

dan orang-orang pun keluar untuk mengenangkan kami

terompet yang paling lantang ditiup

dan mereka berangkat untuk menangiskan nasib kami dulu

kami pun bangkit dari kubur

memeluki orang-orang itu dan berkata : pulanglah

kami yang mati muda sudah tentram, dan jangan

diusik oleh sesal yang tak keruan sebabnya

kami hanya berkelahi dan sudah itu : mati

kami hanya berkelahi untukmu, untuk mereka

dan hari depan, sudah itu : mati

orang-orang pun menyiramkan air bunga yang wangi saat itu

tanpa tahu siapa kami ini

tiada mereka dengarkan ucapan terimakasih kami yang tulus

tiada mereka dengarkan salam kami bagi yang tinggal

tiada mereka lihatkah senyum kami yang cerah

dan sudah itu : mati

siapa berkata bahwa kami telah musnah

siapa berkata

kami kenal nama-namamu di mesjid di gereja di jalan di pasar

kami kenal nama-namamu di gunung di lembah di sawah

di ladang dan di laut, meskipun kalian

tiada menyadari kehadiran kami

siapa berkata bahwa kami telah musnah

siapa berkata

tanah air adalah sebuah landasan

dan kami tak lain baja yang membara hancur

oleh pukulan

ialah kemerdekaan

kemarin giliran kami

tapi besok mesti tiba giliranmu

kalau saja kau masih mau tahu ucapan terimakasih

terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak

hidup dan mengerti makna kemerdekaan

dan kami adalah baja yang membara di atas landasan

dibentuk oleh pukulan : ialah kemerdekaan

(mungkin besok tiba giliranmu)

siapa yang tahu cinta saudara, paman dan bapa

siapa yang bisa merasa kehilangan saudara, paman dan bapak

ingat untuk apa kamu pergi

siapa yang pernah mendengar bedil, bom dan meriam

siapa yang sempat melihat luka, darah dan bangkai manusia

ingat kenapa kami tak kembali

begitu hebatkah kemerdekaan itu hingga kami korbankan

apa saja untuknya

jawablah : ya

begitu agungkah ia hingga kami tak berhak menuntut apa-apa

jawab lagi : ya

sudah kau dengarkah suara sepatu kami tengah malam hari

datang untuk memberkati anak-anak yang tidur

sebab merekalah yang kelak harus bisa mempergunakan

bahasa dan kehendak kami

sudah kau dengarkah suara napas kami

menyusup ke dalam setiap rahim bunda yang subur

sebab kami selalu dan selalu lahir kembali

selalu dan selalu berkelahi lagi

mungkin pernah kau kenal kami dahulu, mungkin juga tidak

mungkin pernah kau jumpa kami dahulu, mungkin juga tidak

tapi toh tak ada bedanya:

kami telah memulainya

dan kalian sekarang yang harus melanjutkannya

dan memang tak ada bedanya :

kalau hari itu bagi kami adalah saat penghabisan

bagimu adalah awal pertaruhan

awal dari apa yang terlaksana kemarin, kini besok pagi

meski kami pernah kau kenal atau tidak

meski kami pernah kau jumpa atau tidak

kami adalah buruh, pelajar, prajurit dan bapa tani

yang tak sempat mengenal nama masing-masing dengan baik

kami turun dari kampung, benteng, ladang dan gunung

lantaran satu harapan yang pasti

walau tak pernah kembali

kami hanyalah kubur yang rata dengan tanah dan tak bertanda

kami hanyalah kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak punya nama

tapi hari ini doakan sesuatu yang pantas bagi kami

agar Tuhan yang selalu mendengar bisa mengerti dan

mengeluarkan ampun

kami adalah mayat-mayat yang sudah lebur dalam bumi

tapi adukan segala yang pantas tentang diri kami ini

agar tak lagi mengembara arwah kami

kami telah lahir, hidup dan berkelahi : dan mati

kami telah mati

lahir dari para ibu yang mengerti untuk apa kami lahir di sini

hidup di bumi yang mengerti semangat yang menjalankan kami

kami telah berkelahi; dan mati

tapi siapakah yang bisa menterjemahkan bahasa hati kami

dan mengatakannya kepada siapa pun

tapi siapakah yang bisa menangkap bahasa jiwa kami

yang telah mati pagi sekali

dan berjalan tanpa nama dan tanda

dalam satu lobang kubur

kami telah lahir dan selalu lahir

selalu dan selalu lahir dari para bunda yang tabah

selalu dan selalu berkelahi

di mana dan kapan saja

biarkan kami bicara lewat suara anak-anak

yang menyanyikan lagu puja hari ini

biarkanlah kami bicara lewat kesunyian suasana

dari orang-orang yang mengheningkan cipta hari ini

Sementara bendera yang kami tegakkan dahulu berkibar

atas rasa bangga kami yang sederhana

biarkanlah kami bicara hari ini

lewat suara anak-anak yang menyanyikan lagu puja

lewat kesunyian suasana orang-orang yang mengheningkan cipta

Gelora

Th III, No 19

( Nopember 1962)

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

 

Ketika Jari-jari Bunga Terbuka

Ketika jari-jari bunga terbuka

mendadak terasa : betapa sengit

cinta kita

cahaya bagai kabut, kabut cahaya; di langit

menyisih awan hari ini; di bumi

meriap sepi nan purba;

ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi

di sayap kupu-kupu, di sayap warna

swara burung di ranting-ranting cuaca,

bulu-bulu cahaya : betapa parah

cinta kita

Mabuk berjalan, diantara jerit bunga-bunga rekah

 

Dalam Diriku

Dalam diriku mengalir sungai panjang,

Darah namanya;

Dalam diriku menggenang telaga darah,

Sukma namanya;

Dalam diriku meriak gelombang sukma,

Hidup namanya!

Dan karena hidup itu indah,

Aku menangis sepuas-puasnya

(1980)

 

Yang Fana adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi :

Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

Sampai pada suatu hari

Kita lupa untuk apa.

“Tapi,

Yang fana adalah waktu, bukan?”

Tanyamu. Kita abadi.

(1978)

 

Tiba-tiba Malam pun Risik

tiba-tiba malam pun risik

beribu Bisik

tiba-tiba engkau pun lengkap menerima

satu-satunya Duka

Berjalan di Belakang Jenazah

berjalan di belakang jenazah angin pun reda

jam mengerdip

tak terduga betapa lekas

siang menepi, melapangkan jalan dunia

di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala

di atas: matahari kita, matahari itu juga

jam mengambang di antaranya

tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya

 

Dalam Bus

langit di kaca jendela bergoyang

terarah ke mana

wajah di kaca jendela yang dahulu juga

mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata

baru perjalanan dari kota ke kota

demikian cepat

kita pun terperanjat: waktu henti ia tiada

 

Dalam Doa: II

saat tiada pun tiada

aku berjalan (tiada

gerakan, serasa

isyarat) Kita pun bertemu

sepasang Tiada

tersuling (tiada

gerakan, serasa

nikmat): Sepi meninggi

Pada Suatu Hari Nanti

pada suatu hari nanti

jasadku tak akan ada lagi

tapi dalam bait-bait sajak ini

kau tak akan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti

suaraku tak terdengar lagi

tapi di antara larik-larik sajak ini

kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti

impianku pun tak dikenal lagi

namun di sela-sela huruf sajak ini

kau tak akan letih-letihnya kucari

 

Pertemuan

Perempuan mengirimkan air matanya

Ke tanah-tanah cahara, ke kutub-kutub bulan

Ke landasan cakrawala, kepalanya di atas bantal

Lembut bagai bianglala

Lelaki tak pernah menoleh

Dan di setiap jejaknya; melebat hutan-hutan,

hibuk pelabuhan-pelabuhan, di pelupuknya sepasang matahari

Keras dan fana

Dan serbuk-serbuk hujan

tiba dari arah mana saja (cadar bagi rahim yang terbuka,

udara yang jenuh)

Ketika mereka berjumpa, di ranjang ini

 

Maut

Maut dilahirkan waktu fajar

Ia hidup dari mata air;

Itu sebabnya ia tak pernah mengungkapkan seluk-beluk karat

yang telah mengajarinya bertarung

melawan hidup; ia juga takkan mau

Menjawab teka-teki sejakala

Yang telah menahbiskannya

Menjadi Penjaga gerbang itu

Maut mencintai fajar

dan mata air, dengan tulus

 

Narcissus

seperti juga aku: namamu siapa, bukan?

pandangmu hening di permukaan telaga dan rindumu dalam

tetapi jangan saja kita bercinta

jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma

atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun

dan jatuh di telaga: pandangmu berpendar, bukan?

cemaskah aku kalau nanti air hening kembali?

cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi

 

Kolam di Pekarangan

/1/

Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya.

Ia ingin sekali bisa merindukannya.

Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarnya pelahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak bergoyang.

Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu.

Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembab angin yang tidak akan bisa dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat yang dikandungnya meresap ke pori-porinya.

Ada gigil matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuh-nyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa.

Zat itu bukan angin. Zat itu bukan cahaya matahari.

Zat itu menyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang ke sana ke mari di atas hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak pernah terbayangkan olehnya bertanya kepada batu kerikil mengapa kamu selalu memejamkan mata. Ia berharap bisa mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum sepenuhnya membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun lain yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tidak suka membayangkan daun lain yang kebetulan jatuh di kaki pohon itu, membusuk dan menjadi pupuk, kalau kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.

*

Ia ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.

*

Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.

/2/

Ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada daun jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak berhak mengeluh tentang apa saja yang jatuh di dalamnya. Air kolam, dunianya itu. Ia merasa bahagia ada sebatang pohon jeruk yang tumbuh di pinggir kolam itu yang rimbunannya selalu ditafsirkannya sebagai anugerah karena melindunginya dari matahari yang wataknya sulit ditebak. Ia senang bisa bergerak mengelilingi kolam itu sambil sesekali menyambar lumut yang terjurai kalau beberapa hari lamanya si empunya rumah lupa menebarkan makanan. Mungkin karena tidak bisa berbuat lain, mungkin karena tidak akan pernah bisa memahami betapa menggetarkannya melawan arus sungai atau terjun dari ketinggian, mungkin karena tidak pernah merasakan godaan umpan yang dikaitkan di ujung pancing. Ia tahu ada daun jatuh, ia tahu daun itu akan membusuk dan bersenyawa dengan dunia yang membebaskannya bergerak ke sana ke mari, ia tahu bahwa daun itu tidak akan bisa bergerak kecuali kalau air digoyang-goyangnya. Tidak pernah dikatakannya Jangan ikut bergerak tinggal saja di pojok kolam itu sampai zat entah apa itu membusukkanmu. Ikan tidak pernah percaya bahwa kolam itu dibuat khusus untuk dirinya oleh sebab itu apa pun bisa saja berada di situ dan bergoyang-goyang seirama dengan gerak air yang disibakkannya yang tak pernah peduli ia meluncur ke mana pun. Air tidak punya pintu.

*

Kadangkala ia merasa telah melewati pintu demi pintu.

*

Merasa lega telah meninggalkan suatu tempat dan tidak hanya tetap berada di situ.

/3/

Air kolam adalah jendela yang suka menengadah menunggu kalau-kalau matahari berkelebat lewat di sela rimbunan dan dengan cerdik menembusnya karena lumut merindukannya. Air tanpa lumut? Air, matahari, lumut. Ia tahu bahwa dirinya mengandung zat yang membusukkan daun dan menumbuhkan lumut, ia juga tahu bahwa langit tempat matahari berputar itu berada jauh di luar luar luar sana, ia bahkan tahu bahwa dongeng tentang daun, ikan, dan lumut yang pernah berziarah ke jauh sana itu tak lain siratan dari rasa gamang dan kawatir akan kesia-siaan tempat yang dihuninya. Langit tak pernah firdaus baginya. Dulu langit suka bercermin padanya tetapi sekarang terhalang rimbunan pohon jeruk di pinggirnya yang semakin rapat daunnya karena matahari dan hujan tak putus-putus bergantian menyayanginya. Ia harus merawat daun yang karena tak kuat lagi bertahan lepas dari tangkainya hari itu sebelum subuh tiba. Ia harus merawatnya sampai benar-benar busuk, terurai, dan tak bisa lagi dikenali terpisah darinya. Ia pun harus habis-habisan menyayangi ikan itu agar bisa terus-menerus meluncur dan menggoyangnya. Air baru sebenar-benar air kalau ada yang terasa meluncur, kalau ada yang menggoyangnya, kalau ada yang berterima kasih karena bisa bernapas di dalamnya. Ia sama sekali tak suka bertanya siapa gerangan yang telah mempertemukan kalian di sini. Ia tak peduli lagi apakah berasal dari awan di langit yang kadang tampak bagai burung kadang bagai gugus kapas kadang bagai langit-langit kelam kelabu. Tak peduli lagi apakah berasal dari sumber jauh dalam tanah yang dulu pernah dibayangkannya kadang bagai silangan garis-garis lurus, kadang bagai kelokan tak beraturan, kadang bagai labirin.

*

Ia kini dunia.

*

Tanpa ibarat.

 

Sajak Desember

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua

ketika daun penanggalan gugur

lewat tengah malam. kemudian kuhitung

hutang-hutangku pada-Mu

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;

di luar hujan pun masih kudengar

dari celah-celah jendela. ada yang terbaring

di kursi letih sekali

masih patutkah kuhitung segala milikku

selembar celana dan selembar baju

ketika kusebut berulang nama-Mu; taram

temaram bayang, bianglala itu

1961

 

Mata jendela

Pandanglah yang masih sempat ada…

Pandanglah aku: sebelum susut dari Suasana…

Sebelum pohon-pohon di luar tinggal suara…

Terpantul di dinding-dinding gua…

Pandang dengan cinta…

Meski segala pun sepi tandanya waktu kau bertanya-tanya,

Bertahan setia langit mengekalkan warna birunya…

Bumi menggenggam seberkas bunga, padamu semata

 

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin mambakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi

 

Metamorfosis

ada yang sedang menanggalkan

kata-kata yang satu demi satu

mendudukkanmu di depan cermin

dan membuatmu bertanya

tubuh siapakah gerangan

yang kukenakan ini

ada yang sedang diam-diam

menulis riwayat hidupmu

menimbang-nimbang hari lahirmu

mereka-reka sebab-sebab kematianmu

ada yang sedang diam-diam

berubah menjadi dirimu

 

Sonet, 1

: Andy, Pengamen

“Aku menyanyi untukmu,” katamu. Aku diam,

mendengarkan gerimis yang berderai lalu

bagai benang terurai dari langit yang dalam.

Adakah kausaksikan aku mendengarkanmu?

Aku diam, mendengar dan tidak mendengar

suaramu. “Biar aku menyanyi, hanya untukmu,”

katamu. Aku diam, mungkin gerimis bergetar

bagai tirai warna-warni, hanya untukku.

Apakah kau yakin aku bisa menyaksikan

mahasunyi yang meniti butir-butir gerimis,

apakah yang kauinginkan dariku yang bertahan

agar tak ada sebutir pun dari mata menitis?

“Aku menyanyi untukmu, selalu,” katamu.

Gila, kautusukkan juga senyap senar itu!

 

Sonet, 2

Aku tak lain sebutir telur

kubayangkan tergolek di sarang itu

ketika siang sudah luhur —

“Dan tak juga menetas,” katamu.

Aku tak lain seonggok sarang

kubayangkan terbaring di awan biru

ketika hari menjelang petang —

“Dan tak ada burung hinggap,” katamu.

Aku tak lain seekor burung

kubayangkan lepas dari ketinggian itu

ketika malam menjelma senandung —

“Menidurkanmu dalam telur,” katamu.

“Kau akan mendengar dendang hening

merawatmu, tak lekang mendenting.”

 

Sonet, 3

“Jangan lupa kirim pesan kalau kau tiba

dengan selamat di bandara,” katamu.

Kudengar getar dari kota nun di sana,

terpisah oleh jalan-jalan berdebu

dan langit yang bagai rasa cemas.

Kata melenting di dinding-dinding

kabin, tak berhak lepas

dari kaca jendela yang tak lagi bening.

Awan yang di bawah bergumpal melata

tampaknya tak siap lagi menjadi lambang

cinta kita, “Apakah ia akan tetap ada

sehabis hujan?” Pesawat mendadak goyang

ketika kubayangkan matamu mendesah,

“Jangan lupa, di sini ada yang gelisah.”

 

Sonet, 4

Hidup terasa benar-benar tak mau redup

ketika sudah kaudengar pesan:

suatu hari semua bunyi rapat tertutup.

“Penyanyi itu tuli,” katamu pelan.

Tapi bukankah masih ada langit

yang tak pernah tertutup pelupuknya,

yang menerima segala yang terbersit

bahkan dari mulut si tuli dan si buta?

“Penyanyi itu buta?” tanyamu gemetar;

kita pun diam-diam mendengarkannya,

Cinta terasa baru benar-benar membakar

ketika pesan kaudengar: padamkan nyalanya!

Kita pun menyanyi selepas-lepasnya,

sepasang kekasih yang tuli dan buta.

 

Sonet, 5

Malam tak menegurmu, bergeser agak ke samping

ketika kau menuangkan air mendidih ke poci;

ada yang sudah entah sejak kapan tergantung di dinding

bergegas meluncur di pinggang gelas-waktu ini.

Dingin menggeser malam sedikit ke sudut ruangan;

kautahan getar tanganmu ketika menaruh tutup

poci itu, dan luput; ada yang ingin kaukibaskan.

Kenapa mesti kaukatakan aku tampak begitu gugup?

Udara bergoyang, pelahan saja, mengurai malam

yang melingkar, mengusir gerat-gerit dingin

yang tak hendak beku, berloncatan di lekuk-lekuk angka jam.

Malam tidak menegurku. Hanya bergeser. Sedikit angin.

Ada yang diam-diam ingin kauusap dari lenganmu

ketika terasa basah oleh tetes tik-tok itu.

Sonet, 6

Sampai hari tidak berapi? Ya, sampai angin pagi

mengkristal lalu berhamburan dari sebatang pohon ranggas.

Sampai suara tak terdengar berdebum lagi?

Ya, tak begitu perlu lagi memejamkan mata, bergegas

memohon diselamatkan dari haru biru

yang meragi dalam sumsummu; tak pantas lagi

menggeser-geser sedikit demi sedikit bangkai waktu

agar tak menjadi bagian dari aroma waktu kini.

Sampai yang pernah bergerit di kasur

tak lagi menempel di langit-langit kepalaku?

Sampai kedua bola matamu kabur,

sayapmu lepas, dan kau melesat ke Ruh itu.

Ruh? Ya! Sampai kau sepenuhnya telanjang

dan tahu: api tubuhmu tinggal bayang-bayang.

Sonet, 7

Ada jarak yang harus ditempuh sampai suasana

siap menerima kita. Dan kita arif menerimanya, bukan?

Ada yang harus tak habis-habisnya kita hela

dan hembuskan sampai pisau yang terpejam di tangan

membelah apel yang di atas meja. Seiris telentang, seiris

tengkurap di sebelahnya? Begitu ramal seorang empu

setelah menyelesaikan tugas menempa sebilah keris.

Celoteh juru nujum yang di bukit nun di sana itu?

Ada jarak yang harus diremas sampai kerut

dalam pembuluh darah kita. Sampai yang biru

kembali hijau berkat kuning itu, sampai segala terhalau:

yang ini, yang itu, yang di sana, yang di situ,

yang layang-layang, yang batu? Ada jarak yang harus ditebas

kalau kita mau menerima pertemuan ini dengan ikhlas.

Sonet, 8

Di sudut itu selalu ada yang seperti menunggu

kita. Mengapa ada yang selalu terasa hadir di sana?

Di situ konon kita dulu dilahirkan, kau tahu,

agar bisa melihat betapa luas batas antara nyata

dan maya. Dua dinding bertemu di sudut itu,

seperti yang sudah dijanjikan sejak purba

ketika sehabis peristiwa itu leluhur kita diburu-buru

dan sesat di rumah ini. Kau masih juga percaya

rupanya, tanpa menyiasati dinding-dinding itu?

Rumah baru terasa rumah kalau ada penyekat

antara sini dan Sana, membentuk sudut tempat kita bertemu

dan memandang lepas ruang luas, tanpa akhirat.

Mengapa terasa harus ada yang menunggu?

Agar tak mungkin ada yang bisa membebaskanmu.

Sonet, 9

Kaubalik-balik buku itu selembar demi selembar

sore ini. Bukankah waktu itu masih pagi,

ketika kau mencatatnya? Aku pungut buku yang kaulempar

ke lantai, telungkup, tampak lusuh, sendiri.

Kenapa mesti ada sore hari? Pejamkan mata, bayangkan

beranda yang pernah membiarkan kita mengitari

pekarangan yang begitu luas, yang kemudian ternyata bukan

bagian dari tempat yang konon disediakan untuk kita tinggali.

Matahari masih hangat ketika aku mencatatnya

di buku yang sore ini telah menggodamu untuk mencari

gambar sebuah taman yang memancarkan aroma

secangkir teh hangat di pagi hari. Ya, bukankah masih pagi

ketika kau menggambarnya? Ya, mungkin karena waktu itu

masih pagi. Lekas, berikan buku itu kembali, padaku!

Sonet, 10

Ada selembar kertas yang belum bertulisan.

Apakah kauharapkan aku ke mari seperti semula,

belum penuh dengan coretan?

Ada yang ingin menulis aksara demi aksara

dan tahu tak akan mencapai kalimat meski ada tanda seru

di ujungnya. Tidak semua memerlukan tulisan,

(Apakah aku kaubayangkan selembar kertas itu?)

meski sudah terlanjur tercatat sebelum sempat diucapkan.

Air menyeret catatan berkelok-kelok di sepanjang sungai

bila penghujan. Tetapi sama sekali tak terbaca

bahkan ketika sudah begitu rekah-rekah perangai

kemarau. Tinggal garis-garis yang carut-marut di dasarnya.

Kau mengharapkanku kembali seperti itu? Risaukah kita

ketika menyadari bahwa tulisan tak perlu, ternyata?

Sonet, 11

Terima kasih, kartu pos bergambar yang kaukirim dari Yogya

sudah sampai kemarin. Tapi aku tak pernah mengirim apa pun,

kau tahu itu. Aku sedang kena macet, Jakarta seperti dulu juga

ketika suatu sore buru-buru kau kuantar ke stasiun.

Tapi aku tak sempat menulis apa pun akhir-akhir ini.

Aku suka membayangkan kau kubonceng sepeda sepanjang Lempuyangan

berhenti di warung bakso di seberang kampus yang sudah sepi.

Kau masih seperti dulu rupanya, menyayangiku? Bayangkan

kalau nanti kita ke sana lagi! Di kartu pos itu ada gambar jalan

berkelok, bermuara di sebuah taman tua tempat kita suka nyasar

melukiskan hutan, sawah, kebun buah, dan taman

yang ingin kita lewati: gelas yang tak pernah penuh. Hahaha, dasar!

Aku suka membayangkan kartu pos itu memuat gambarmu,

residu dari berapa juta helaan dan hembusan napasku dulu.

Sonet, 12

Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca,

tak ada huruf kapital di awalnya. Yang tak kita inga

aksara apa. Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada;

tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat –

dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi

dihimpitnya. Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat

harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini –

tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat

pada sebuah tanda tanya. Tapi, bukankah kita sudah mencari

jawaban, sudah tahu apa yang harus kita contreng

jika tersedia pilihan? Dan kemudian memulai lagi

merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng?

Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara?

Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?

Sonet, 13

Titik-titik hujan belum juga lepas dari tubir daun itu;

ditunggunya kita lewat. Kupandang ke atas:

sebutir jatuh di bulu matamu, yang lain meluncur di pelipismu.

Pohon itu kembali menatapmu, hanya selintas.

Diberkahinya tanganku yang ingin sekali mengusap basah

yang mendingin di wajahmu. Kau seperti ingin melakukan

sesuatu. Aku pun mendadak menghentikan langkah

sejenak – jangan tergesa, agar bisa kaubaca niat titik hujan.

Butir-butir hujan menderas dari sudut-sudut daun itu

tepat ketika kita lewat. Kupandang ke atas.

Pohon itu tak lagi menatapmu. Ada yang membasahi kerudungmu,

meluncur ke dua belah pundakmu. Dibiarkannya kita melintas.

Kita pun bergegas agar segera sampai ke ujung jalan

tanpa bicara. Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan

Sonet: X

Siapa menggores di langit biru

Siapa meretas di awan lalu

Siapa mengkristal kabut itu

Siapa mengertap di bunga layu

Siapa cerna di warna ungu

Siapa bernafas di detak waktu

Siapa berkelebat setiap kubuka pintu

Siapa mencair di bawah pandangku

Siapa terucap di celah kata-kataku

Siapa mengaduh di baying-bayang sepiku

Siapa tiba menjemputku berburu

Siapa tiba-tiba menyibak cadarku

Siapa meledak dalam diriku

: siapa AKU

“Kau bertanya tentang puisi yang indah. Berulang aku bilang tak tahu batas-batasnya. Aku hanya tahu puisi yang begitu terbacakan, tiba-tiba hatiku terisi penuh sekaligus kosong. Benderang sekaligus syahdu. Gejolak sekaligus redam. Bagaimana aku bisa menggambarkannya dengan pisau analisa?”

“Ada lagi. Ia mengungkungku sekaligus membebaskanku. Bukankah tiada yang lebih indah ketika semua warna terpancarkan, dan kita terbeku tanpa memilih, membiarkan semua berlalu tanpa sebuah penilaian?”

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s